Menu Tutup

10 faktor yang mempengaruhi kebiasaan berkemih

faktor yang mempengaruhi kebiasaan berkemih

Proses berkemih ataupun kebiasaan berkemih pada setiap orang dapat berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia seseorang, secara keseluran kami merangkum faktor ini kedalam sebuah tulisan yang berjudul 10 faktor yang mempengaruhi kebiasaan berkemih seseorang. Sebelumnya tahukah sahabat manfaat dari berkemih itu ?, berkemih adalah proses pengeluaran air dari tubuh manusia, dimana yang dibuang adalah air yang sudah tidak dapat dipakai atau digunakan lagi. Dengan mengetahui hal itu, maka dapat disimpulkan bahwa kebanyakan minum dapat membuat seseorang berkemih lebih sering, dan kekurangan minum dapat membuat berkemih menjadi jarang atau sedikit.

10 Faktor yang mempenaruhi Kebiasaan berkemih

1. Faktor Pertumbuhan dan Perkembangan seseorang

Usia dapat mempengaruhi kebiasaan berkemih seseorang, pasalnya air kencing normal yang keluar dari bayi atau anak berkisar antara 400 sampai 500 ml perhari, sedangkan pada orang dewasa normalnya dapat mencapai 1500 sampai 1550 perhari. Hal ini menunjukan bahwa kebutuhan air dan pengeluaran air lebih besar terjadi ketika seseorang menginjak usia dewasa, namun pada seorang anak yang berat badannya 10% dari orang dewasa, cenderung berkemih lebih banyak yaitu, sebesar 33% dari orang dewasa.

Ketika seseorang menginjak usia 60 tahun keatas atau disebut juga sebagai usia lanjut, frekuensi berkemih menjadi sering atau meningkat, hal ini terjadi karena penurunan fungsi penahan air sehingga daya tampung urin di bledder menjadi sedikit. Selain itu, frekuensi pengeluran urin pada ibu hamil juga mengalami peningkatan, hal ini diakibatkan karena adanya tekanan janin pada area bledder, sehingga ibu hamil mudah sekali merasakan ingin BAK walaupun air urin yang ditampung masih sedikit.

2. Faktor Sosiokultural

Faktor kedua ini juga mempengaruhi kebiasaan berkemih seseorang. Beberapa orang memiliki peraturan yang membuat dia diharuskan untuk kencing ditempat tertutup. Sedangkan beberapa orang lainya bisa saja berkemih di tempat terbuka. Ketika seseorang tidak menemukan tempat tertutup untuk berkemih, hal ini akan membuat dia menahannya sampai menemukan tempat yang tertutup.

Selain itu, ketika seseorang sedang sakit yang membuat dia tidak bisa berjalan atau mengharuskan dia untuk terus berada ditempat tidur. Akan memiliki kebiasaan untuk berkemih di tempat tidur, sehingga terkadang ia akan menahan rasa ingin Berkemihnya.

3. Faktor Psikologis (Pikiran)

Pikiran seseorang mampu untuk mempengaruhi keinginan berkemih. Dimana, orang yang sedang mengalami stres atau cemas, maka akan membuat stimulus untuk berkemih. Selain itu, beberapa orang mengalami rasa tekut terhadap kegelapan terutama pada malam hari, sehingga jika dia merasakan ingin berkemih pada waktu malam hari, maka dia cenderung memilih rasa berkemihnya dibandingkan harus berangkat ke kamar mandi.

4. Faktor Gaya Hidup seseorang

Kebiasaan dan gaya hidup seseorang ketika berkemih seperti apa ?, apakah dia berkemih dengan berdiri di tengah hutan, ataukah dia selalu berkemih didalam air, atau mungkin selalu berkemih ditempat tertutup. Kebiasaan dan gaya hidup tersebut dapat mempengaruhinya ketika ingin berkemih. Karena orang yang memiliki kebiasaan berkemih di tempat terbuka, akan cenderung sulit untuk berkemih di tempat tertutup.

Begitu juga dengan orang yang selalu berkemih ditempat tertutup, akan mengalami kesulitan untuk berkemih di tempat terbuka. Apalagi jika ia harus berkemih ditempat tidur, menggunakan alat seperti pispot dan sejenisnya.

5. Faktor Aktivitas dan Tonus Otot

Agar seseorang mampu berkemih secara maksimal, maka tentu dipengaruhi oleh kekuatan otot sistem perkemihan itu sendiri, seperti otot pelvis yang berfungsi untuk berkontraksi, sehingga ai kencing keluar secara optimal. Jika terjadi gangguan pada otot-otot sistem perkemihan, maka akan membuat air kencing yang keluar sedikit dan tidak maksimal.

Selain itu, untuk meningkatkan produksi air urin, maka seseorang harus beraktivitas seperti olahraga dan sebagainya.

6. Faktor Intake atau masukan air dan makanan

Seperti yang di sampaikan pada awal pembicaraan kita, bahwa ketika seseorang minum air yang banyak, maka akan membuat pengeluaran air atau rasa berkemih jadi meningkat. Sedangkan bagi orang yang minumnya sedikit, akan membuat air kencing yang dikeluarkannya juga sedikit. Begitu juga dengan makanan yang dikonsumsi, karena dalam makanan juga mengandung air, maka semakin tinggi kadar airnya maka pengeluaran air dapat meningkat.

Jenis makanan atau minuman yang dikonsumsi juga dapat mempengaruhi meningkkan berkemih. Misalnya seperti teh, kopi, atau coklat, akan membuat seseorang cenderung berkemih lebih sering, hal ini karena dalam makanan atau minuman tersebut mengandung kafein yang menghambat produksi hormon ADH.

7. Faktor Penyakit

Penyakit yang dialami dapat mengganggu atau mempengaruhi proses sistem perkemihan, apalagi jika penyakit tersebut terjadi di area perkemihan itu sendiri. salah satu gejala yang mempengaruhi pengeluaran urin adalah demam. Ketika seseorang mengalami demam, pengeluaran cairan lebih banyak melalui permukaan kulit, sehingga pengeluaran urin melalui uretra menjadi sedikit.

Selain itu penyakit lainnya seperti diare, akan membuat pengeluran cairan terjadi melalui anus. Hal ini karena terjadi gangguan pada usus besar, sehingga penyerapan cairan menjadi sedikit.

8. Faktor Pembedahan

Banyak hal yang membuat pengeluaran urin menjadi menurun pada saat atau setelah pembedahan. Misalnya saja pemberian obat anastesi, dimana obat ini akan membuat filtrasi glomelurus (organ ginjal) menjadi menurun, sehingga pengeluaran urin juga mengalami penurunan.

Penyebab lainnya yaitu karena faktor pembedahan memang dapat memicu sindrom adaptasi. Dimana kelenjar melepaskan hormon ADH, sehingga membuat tubuh menyerap cairan lebih banyak, dan akibatnya air yang dikeluarkan menjadi lebih sedikit.

9. Faktor Pengobatan

Selain pembedahan, pada fase pengobatan juga dapat mempengaruhi proses berkemih. Terutama obat-obatan yang berhubungan dengan terapi diuretik, dapat meningkatakn pengeluaran urin. Obat antihipertensi, dan juga antikolinergik, akan mengakibatkan seseorang mengalami retensi urin.

10. Pemeriksaan Diagnostik

Orang yang menjalani pemeriksaan medis seperti intravenous volygram, yang membuat seseorang harus membatasi intake atau asupan zat, sebelum adanya pemeriksaan output urin, hal ini tentu akan mempengaruhi sistem perkemihan. Selain itu, pemeriksaan Cytoscopy akan membuat seseorang mengalami edema di area uretra. Edema adalah kondisi air mengumpul pada lapisan tertentu, sehingga memang dapat menurunkan pengeluaran urin.

Tentang Penulis: myarfayat
Tell us something about yourself.
Share +62